Pemantik: Umi Hanik
Penindasan terhadap perempuan merupakan cikal bakal lahirnya gerakan perempuan. Penindasan terhadap perempuan menurut Hendri Morgan telah dilakukan sejak zaman berburu meramu, lebih tepatnya pada fase barbarisme. Pada fase ini telah muncul konsep kepemilikan yang dikuasai oleh institusi keluarga. Laki-laki pada fase ini menjadi pihak yang lebih banyak bekerja dan menguasai alat produksi seperti tanah dan lahan. Sementara perempuan hanya dianggap sebagai mesin reproduksi dan mengurus ranah domestik. Fase barbarisme juga telah mengenal mengenai hak waris, yang pada akhirnya karena ketimpangan pembagian peran di ruang publik menyebabkan hak waris perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki. Ketimpangan pembagian peran di fase ini akhirnya menyebabkan perempuan menjadi termarginalkan. Sebelum lahirnya konsep kepemilikan, perempuan dan laki-laki telah memiliki kesepakatan mengenai pembagian kerja yang sama-sama menggantungkan hidupnya pada alam.. Pada fase ini belum terjadi penindasan antara satu dengan yang lainnya, karena orientasi pemikiran manusia pada saat itu hanya untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Teori determinasi biologi. Teori ini menyebutkan apabila penindasan perempuan memang sudah bawaan biologis atau sejak lahir, yang mana laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina. Penis dianggap sebagai organ yang lebih penting dibanding vagina. Penis menurut teori ini dianggap sebagai alat pengontrol seksualitas, sebagaimana laki-laki dapat mengatur tubuh perempuan. Akibat dari adanya pemikiran ini adalah lahirnya budaya sunat perempuan yang pada akhirnya menyebabkan perempuan hanya menjadi “pelayan” yang tidak berhak atas otoritas tubuhnya.

Lebih dalam lagi terkait penindasan terhadap perempuan, persoalan ini turut dilegitimasi oleh para filsuf seperti Socrates dan Aristoteles. Menurut pemikiran para filsuf pada zaman itu perempuan merupakan makhluk irasional yang cenderung menggunakan emosi dibanding logika. Oleh karena itu ia tidak layak untuk mendapatkan hak-hak di ranah publik dan hanya boleh berurusan dengan ranah domestik. Perempuan hanya dilihat sebagai mesin reproduksi yang tidak berhak atas pendidikan. Pemikiran yang seperti itulah pada akhirnya melahirkan suatu gerakan untuk membebaskan perempuan dari penindasan atau yang dewasa ini lebih dikenal dengan gerakan feminisme.

Sebagai sebuah gerakan, feminisme terdiri dari banyak aliran. Akan tetapi pada sesi incalss hanya dibahas 8 aliran feminisme, yaitu yang pertama feminis liberal yang menuntut adanya persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Kedua adalah femisis radikal yang beranggapan bahwa budaya patriarki merupakan faktor utama terjadinya penindasan terhadap perempuan. Ketiga adalah feminis marxis yang menganggap apabila kapitalisme dan perbedaan kelas merupakan penyebab utama dari penindasan dan marginalisasi terhadap perempuan. Keempat adalah feminis sosialias, aliran ini merupakan kritik atas feminis radikal dan marxis. Feminism sosialis beranggapan apabila penindasan terhadap perempuan tidak hanya disebabkan oleh budaya patriarki maupun kapitalisme, akan tetapi gabungan dari keduanya.kelima adalah psiko analisis yang mana beranggapan bahwa penindasan terhadap perempuan dikarenakan perempuan memiliki vagina dan laki-laki memiliki penis.

Keenam adalah feminis postmodern yang memiliki anggapan bahwa perempuan tertindas dikarenakan adanya reproduksi symbol-simbol, seperti cantik harus putih, kurus, langsing, dan tinggi. Ketujuh adalah feminis aliran multikultural, inti dari aliran ini adalah menekankan pada pelaku diskriminasi dan penindasan tidak hanya laki-laki akan tetapi semua orang yang memiliki ras lebih tinggi. Terakhir atau kedelapan adalah feminis global yang berfikiran apabila penindasan merupakan efek dari adanya kolonialisme dan mereka berupaya melakukan penyetaraan pada seluruh negara di dunia.

Penulis : Alya (Anak magang dari Universitas Brawijaya)